BOGOR, KOMPAS.com - Tiga warga Kampung Seula Erih, Desa Sumur Batu, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor tewas hampir bersamaan di sumur sebuah vila di kampung mereka, Kamis (15/7/2010) pagi . Pada korban adalah Emuh (55), Usup (45), dan Dadang (37), yakni bapak, anak, dan menantu, yang membuat sumur tersebut. Ewah (30), selamat dari kecelakaan kerja tersebut.
Hasan Basri, salah seorang tokoh masyarakat kampung tersebut, yang juga masih berkerabat dengan para korban, menuturkan, sumur sedalam 12 meter tersebut dibuat lima orang sejak sebulan lalu secara borongan dengan upah Rp 150 ribu per meter. Satu orang lagi, yakni Ade, saat musibah terjadi masih di rumah.
Kalau vila ini sudah jadi sejak dua bulan lalu. Pemiliknya Pak Darsono, seorang purnawirawan jenderal tentara, yang tinggal di Jakarta. Hari ini para korban diminta untuk mendalamkan sumur tersebut oleh Budi, orang kepercayaan Pak Darsono.
"Yang mengawasi perkerjaan para korban adalah Margono dan Noldi, yang sehari-hari menjaga vila ini. Sampai sekarang pemilik vila dan Budi belum kelihatan. Kalau Margono dan Noldi, melarikan diri begitu musibah ini diketahui warga kampung," kata Hasan, Kamis siang.
Musibah terjadi sekitar pukul 09.00. Yang pertama terjebur ke sumur adalah Dadang, lalu Emuh yang semula bermaksud menolong Dadang. Melihat keduanya tercebut, Usup segera turun untuk menolong, dia pun tercebur.
Ewah yang masih di atas segera meminta bantuan warga untuk menolong ketiganya. Lalu, dengan tubuh diikat, dia diturunkan warga ke sumur. Ia berhasil meraih dan membawa Jasad Usup ke luar dari sumur. Setelah itu, dia pingsan. Warga kemduian menurunkan Udin. Namun, belum sampai meraih jasad korban lainnya, dia lemas, warga pun segera menarik kembali Udin ke atas. Udin pingsan.
"Karena dua orang yang kami turunkan pingsan, saya enggak berani lagi meminta orang turun ke sumur. Kami lalu menelepon polisi," kata Hasan.
Polisi lalu menelepon Satuan Tugas Penangulangan Bencana Alam Kabupaten Bogor. Lima orang anggota sat gas dipimpin Andri Kusnindar datang ke lokasi sekitar pukul 10.00. Sekitar pukul 13.00, kedua jasad korban di dalam sumur berhasil dievakuasi. Setelah proses identivikasi oleh aparat Polres Bogor, jasad para korban dibawa k e rumah orangtua Emuh, sekitar 400 meter dari lokasi vila.
Musibah tersebut berawal dari permintaan Budi agar para tukang gali sumur itu mendalamkan sumur tersebut. Sebab, walapun sudah ke luar air, pemilik vila khawatir ketika musim kemarau, sumur itu kering.
"Sebetulnya para korban keberatan karena mengaku hal itu akan sulit akibat air sumur sudah banyak keluar. Namun karena ongkos membuat sumur baru akan dibayar lunas kalau sumur itu diperdalam, mereka pun terpaksa melakukannya, dengan harapan upah mereka segera dibayar," kata Hasan.
Mereka lalu mendapat pinjaman mesin penyedot air. Namun, sayangnya, pipa atau selangnya kurang panjang. Sehingga, mesin itu dimasukan ke dalam sumur. Akibatnya, asap mesin itu mengendap di dalam sumur. Ketika asap itu belum seluruhnya keluar dari sumur, Dadang turun untuk memulai pekerjaan mereka mendalamkan sumur tersebut.
Kepala Polsek Babakan Madang Ajun Komisaris Ipik Kusmana mengatakan, dari keterangan sejumlah warga, dapat disimpulkan bahwa tiga orang yang tewas tersebut murni karena kelal aian dalam melaksanakan pekerjaan penggalian sumur tersebut.
"Namun, untuk pastinya, kami akan memeriksa sejumlah orang yang terlibat dalam pembuatan sumur. Saat ini, dua penggali sumur yang selamat belum dapat dimintai keterangannya karena masih sakit. Sedang, penjaga vila juga belum kami temukan, keduanya kabur. Fokus sekarang masih penanganan korban tewas," katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar