ANKARA, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menyampaikan pandangan Indonesia mengenai sejumlah hal khususnya peluang kerja sama di depan Parlemen Turki pada Selasa (29/6/2010) sore waktu Ankara atau Selasa malam waktu Jakarta.
Hal tersebut disampaikan Presiden Yudhoyono dalam briefing kepada rombongan resmi di Ankara, Senin malam.
"Untuk materi pidato di depan Parlemen Turki, stukturnya secara sederhana ada dua bagian, yang pertama mengenai apa yang bisa kita tingkatkan bersama dalam kerja sama bilateral di bidang ekonomi, agama, pendidikan dan kebudayaan serta politik internasional," kata Presiden.
Kepala Negara mengatakan, kejelasan mengenai apa yang akan disampaikan tentang peluang kerja sama saling menguntungkan kedua negara tersebut diharapkan mampu ditangkap langsung oleh anggota parlemen Turki.
Hal kedua yang akan disampaikan adalah mengenai peran dalam berbagai lingkaran politik internasional sehingga menguntungkan kedua negara dan membantu menyelesaikan berbagai masalah.
"Antara lain, sebagai sesama anggota OKI, bisa lakukan banyak hal untuk kepentingan komunitas Islam. Juga memberikan kontribusi terhadap proses damai menuju kemerdekaan Palestina," katanya.
Hal lain yang bisa dilakukan adalah bersama-sama membangun tatanan perekonomian baru, upaya bersama menghadapi perubahan iklim dan pembicaraan harmoni di antara peradaban yang ada.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan akan memberi pidato di depan parlemen Turki selama lebih kurang 30 menit.
Substansi pidato Presiden, menurut staf khusus bidang luar negeri Dino Pati Djalal, merujuk kepada hubungan khas kedua negara termasuk 60 tahun hubungan diplomatik kedua negara.
Titik berat kerja sama antara kedua negara yang akan disampaikan dalam pidato presiden setidaknya ada lima hal, yaitu kerja sama dalam melakukan reformasi ekonomi global, kerja sama mendorong adanya kondisi harmoni sebagai upaya menjadikan abad ke-21 sebagai abad soft power dan kerja sama mempromosikan demokrasi tanpa memaksakan bentuk demokrasi.
Kerja sama lainnya adalah di bidang penyelesaian konflik, mendukung pembicaraan damai serta mendorong proses penbentukan negara Palestina yang merdeka serta Israel menghakhiri blokade di Gaza dan Indonesia terus membantu 1.000 warga Palestina hingga 2013.
Dan kerja sama yang terakhir adalah dalam penanganan dan menghadapi isu-isu global mengingat masing-masing negara memegang kunci dalam kedudukannya masing-masing di lembaga atau institusi internasional, termasuk Turki yang menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB dan kedua negara yang menjadi anggota OKI dan G-20.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar